Selamat Datang di Website bpjsduaketenagakerjaan.com

Program BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima Persen Iuran BPJS

Gaji karyawan dipotong 5 persen untuk iuran BPJS. Pelaksanaannya sebagai berikut: dari iuran 5 persen ini, 60 persennya wajib ditanggung pengusaha. Pembagiannya 60:40.

Menuju Indonesia Sejahtera

Saatnya Pemerintah Indonesia mensejahterakan rakyatnya melalui lembagai BPJS Ketenagakerjaan

Ini Saatnya Pekerja Swasta Dapat Pensiun

Sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2001 tentang BPJS, dan sudah disahkan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). BPJS akan melaksanakan program jaminan pensiun bagi karyawan swasta, baik formal maupun non-formal, mulai Juli 2015.

Kabar Baik

Masyarakat di seluruh Indonesia yang tidak mampu membayar iuran Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS), dananya akan tetap dibayarkan/dibantu pemerintah.

Selasa, 02 Juli 2013

Menakertrans Canangkan Gerakan Sadar Jamsostek Menuju BPJS Ketenagakerjaan di Bumi Nyiur Melambai

Menakertrans Muhaimin Iskandar menyaksikan penandatanganan MoU perluasan kepesertaan 
Jamsostek yang dilakukan Direktur Pelayanan PT Jamsostek (Persero) Achmad Riadi 
dengan para walikota dan bupati se Propinsi Sulawesi Utara. 
Dalam kesempatan itu, Menakertrans juga mencanangkan Gerakan Penanggulangan Pengangguran
dan Gerakan Nasional Sadar Jaminan Sosial yang berlangsung di Manado, pekan lalu.



RMOL. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar menegaskan, meningkatnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat terhadap jaminan sosial akan mendorong produktivitas ekonomi, karena ada sistem jaminan sosial yang mengambil beban perusahaan meningkatkan  kesejahteraan para pekerja secara komprehensif.

Rabu, 26 Juni 2013

Kepesertaan Naik 10,1 Persen, Jamsostek Kikis Bertambahnya Potensi Kemiskinan 8 Juta Jiwa

Caption foto; dari kiri, Direktur Kepesertaan PT Jamsostek Junaedi, Kakanwil Banten Didi Siswadi dan Wakil Sekretaris Perseroan Kuswahyudi

RMOL. Jamsostek yang akan bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan pada 1 Januari 2014 menargetkan tambahan  2 juta tenaga kerja aktif menjadi pesertanya.

"Sampai akhir tahun 2013, target kita peserta aktif meningkat jadi 13,1 juta tenaga kerja," kata Direktur Kepesertaan Jamsostek Junaedi di sela acara Jamsostek Goes to Society di Metropolis Town Square, Tanggerang, Sabtu (22/6).

Menurut Junaedi, peningkatan kepesertaan akan membantu mengurangi terjadinya risiko kemiskinan keluarga, terutama  kelangsungan kehidupan perekonomian jika terjadi musibah menimpa para pekerja.

Peningkatan kepesertaan aktif ketenagakerjaan Jamsostek sebanyak 2 juta pekerja diprediksi mengcover potensi kemiskinan 8 juta jiwa karena risiko sosial.  Karena satu keluarga pekerja rata-rata terdiri 4 orang jiwa.

Apalagi  Jamsostek memberi imbal hasil pengembangan program Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar 11 persen lebih. "Dana pengembangan itu jauh di atas bunga bank yang hanya 4 persen dan tidak dipotong pajak, karena pajak pendapatan hanya dipotong satu kali saat mengambil klaim," terangnya.

Nantinya, meskipun pendaftaran peserta dibatasi pada usia 55 tahun sesuai dengan usia  pensiun. Tapi bagi mereka yang masih produktif dan tercatat sebagai peserta sebelum 55 tahun bisa meneruskan kepesertaannya sampai berhenti bekerja di usia berapapun.

Junaedi menambahkan, dengan mendekatkan diri ke masyarakat melalui event Jamsostek "Goes to Society"  di tempat umum seperti Metropolis town Square, Tanggerang, banyak masyarakat yang tadinya tidak mengetahui  menjadi sadar program jaminan sosial.

Apalagi, saat ini Jamsostek telah membuka kantor cabang dan outlet di seluruh kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Bahkan di satu kota bisa tercatat lebih dari satu kantor cabang dan outlet.

"Karena menjadi amanat perundangan dan menjadi hak pekerja untuk  melaporkan jika dia tidak didaftarkan oleh perusahaanya ke kantor cabang Jamsostek terdekat," terangnya.

Sanksinya, sesuai dengan UU Nomor 3/1992 perusahaan yang tidak melindungi karyawannya dengan jamsostek akan didenda Rp 50 juta dan sanksi kurungan badan enam bulan.

"Bahkan menjelang transformasi BPJS tengah disiapkan Peraturan Pemerintah (PP) berupa sanksi administratif pencabutan ijin usaha," paparnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Jamsostek Banten, Didi Siswadi mengungkapkan kepesertaan pekerja ikut program Jamsostek di Banten mencapai 900 ribu dari tiga juta pekerja formal. "Tenaga kerja formalnya mencapai 65 persen dari keseluruhan tenaga kerja termasuk pekerja  sektor informal yang berjumlah 5 juta tenaga kerja," jelasnya.

Dia juga menyambut positif, karena Pemda Provinsi Banten telah melakukan konversi dana bantuan sosial menjadi iuran jaminan sosial bagi tenaga kerja sektor informal. "Pembayaran iuran dilakukan melalui APBD untuk satu tahun sekaligus bagi 2.000 tenaga kerja sektor informal untuk program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JK)," terangnya.

Ditambahkannya, dengan gencarnya sosialisasi, kesadaran masyarakat memahami  jaminan sosial tenaga kerja pun meningkat. "Dalam event di mall ini saja, banyak pekerja yang mendaftarkan diri menjadi peserta," terangnya.

Sementara itu, Wakil sekretaris Perseroan Kuswahyudi menjelaskan, sejauh ini Jamsostek Goes to Society sudah diadakan di delapan kota, meliputi, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Balikpapan, Makasar dan Tanggerang. Kegiatan ini, lanjutnya, masih akan dilakukan di Padang dan Ambon.

"Kita harapkan tidak hanya disambut  antusiasme masyarakat saja, tapi akan membangkitkan kesadaran ikut jaminan sosial," pungkasnya. (Fer)

Minggu, 12 Mei 2013

Kabar Baik

Masyarakat di seluruh Indonesia yang tidak mampu membayar iuran Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS), dananya akan tetap dibayarkan/dibantu pemerintah.

Jumat, 10 Mei 2013

Gaji Dipotong Lima Persen


Gaji karyawan dipotong 5 persen untuk iuran BPJS. Pelaksanaannya sebagai berikut: dari iuran 5 persen ini, 60 persennya wajib ditanggung pengusaha. Pembagiannya 60:40.

Jamsostek Sosialiasi BPJS di Pusat Perbelanjaan

JAKARTA (poskotanews.com)
Sejumlah pusat perbelanjaan di Indonesia jadi tempat sosialisasi program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dalam menjaring kepesertaan baru.

Direktur Kepesertaan PT Jamsostek Junaedi mengungkapkan, melalui program Goes to Society di pusat perbelanjaan, PT Jamsostek ingin menjaring komunitas anak muda dan ibu rumah tangga untuk menjadi peserta.

Banyak cara untuk menyosialisasikan kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja, karena kepesertaan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) ketenagakerjaan nantinya seluruh pekerja formal dan informal, termasuk dengan anak muda yang nantinya menjadi pekerja, kata Junaedi, Rabu (8/6).

Dia menjelaskan pihaknya menargetkan perolehan peserta hingga mencapai lebih dari 100 juta orang, sedangkan saat ini jumlah kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja mencapai 30,4 juta orang, baik itu peserta aktif dan non aktif.

Karena itulah, lanjutnya, untuk memperluas kepesertaan tidak hanya dilakukan di perusahaan atau di kawasan sentra-sentra industri melainkan juga di pusat perbelanjaan.

Sampai dengan saat ini, PT Jamsostek menyelenggarakan tiga acara sosialisasi bertajuk Goes to Society di pusat perbelanjaan, yaitu Lotte Mart Bandung, Tamini Square Jakarta dan Lotte Mart Semarang. Pada Mei dan Juni, sosialisasi itu akan dilanjutkan ke Maspion Square Surabaya, Medan, Makasar, Balikpapan, dan Palembang, jelasnya.

Junaedi menambahkan dalam rangka transformasi BPJS Ketenagakerjaan pada Juni 2015, pihaknya tidak hanya meningkatkan kepesertaan, tapi juga mengejar pertumbuhan investasi dan layanan prima.

Jaminan sosial bukan sekedar membangkitkan kesadaran masyarakat, melainkan harus menjadi suatu gerakan nasional yang tumbuh dari masyarakat, ujar Junaedi.(Tri)